• RSS
  • My Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
Showing posts with label Nasionalisme. Show all posts
Showing posts with label Nasionalisme. Show all posts

Tuesday, 8 May 2012

Mengenal Lebih Jauh Kata "Daeng"

Sebelum pulang ke rumah saya ingin posting sebuah artikel yang menjadi ciri khasku, ciri khas daerahku tanah sulawesi selatan.
Kota Daeng, siapa yang tak kenal julukan ini. Julukan ini disematkan kepada kota Makassar, ibukota Sulawesi Selatan dan sekaligus sebagai pintu gerbang Indonesia bagian timur. Namun saya yakin masih banyak kaskusers yang belum paham tentang makna “Daeng” itu sendiri, utamanya orang-orang yang berasal dari luar pulau Sulawesi.

Pada dasarnya dulu di Makassar terdiri atas 4 stratafikasi sosial yaitu:
1. Kare: Ulama atau Tokoh Religi
2. Karaeng: Raja atau Bangsawan
3. Daeng: Kalangan pengusaha, shah bandar
4. Ata : Budak

Maskot Sulawesi Selatan

Sangat mirip dengan stratafikasi di Bali atau peradaban Hindu yaitu: brahma, ksatria, waisaya dan sudera

Gelar “DAENG” pada hakikatnya tidak didapatkan begitu saja melainkan mengandung makna yang beragam. maknanya antara lain:
Penghambaan dari nama Allah, kurang lebih sama dengan nama Islam yang ditambahi dengan Abdul. Misalnya Daeng Patoto. Patoto dalam lontara artinya pencipta, sehingga Daeng Patoto adalah hamba dari yang maha pencipta. Daeng Tanicalla, artinya tak tercela. Yang tak tercela hanyalah Allah SWT. Daeng Manaba, yang artinya penyayang, hamba dari yang maha penyayang;


Berasal dari kata benda Makassar “pakdoangang” dari akar kata “doa” dan harapan. Ada beberapa “pakadengang” yang dapat masuk dalam kategori ini, misalnya:, Daeng Bau, agar yang bersangkutan memberikan nama harum bagi keluarga dan masyarakatnya. Daeng Nisokna, yang diimpikan, yang dicita-citakan. Daeng Gemilang, agar tampil lebih gemilang. Daeng Nikeknang, agar selalu dikenang. Daeng Kanang agar ia cantik, Daeng Baji agar dia baik hati, Daeng Puji agar dia menyenangkan;


Penegasan bahwa dia juga adalah golongan bangsawan: Daeng Memang, artinya dia memang “daeng”, Daeng Tonji, yang artinya, diapun “daeng”. Daeng Tommi,yang artinya sebelumnya dia bukan daeng tetapi sekarang diapun sudah “daeng”. Daeng Tadaeng artinya, “daeng” atau bukan, baginya sama saja;
Panutan , yang diambil dari nama tokoh yang sukses karena kejujurannya atau keberaniannya atau kepintarannya, dan atau kekayaannya, tanpa terlalu memperhatikan makna dari “pakdaengang” itu.


“DAENG”, juga bisanya diberikan kepada seseorang yang berjasa, dan gelar itu disesuaikan dengan keadaan orang itu. Seorang berkebangsaan Amerika diberi gelar daeng yaitu Daeng Rate, karena kebetulan orangnya tinggi.
Saat ini gelar-gelar paddaengang telah mengalami pergeseran. Anak-anak muda suku Makassar mungkin masih tetap mendapat nama paddaengang dari orang tua mereka, tapi hanya sedikit sekali yang mau memakainya. Alasan utamanya karena nama paddaengang berkesan ketinggalan jaman atau jadul istilah anak sekarang. Apalagi karena nama daeng saat ini identik dengan masyarakat golongan kelas bawah di kota Makassar, misalnya tukang becak, tukang sayur, tukang ikan, dll.

Selain itu, penggunanya adalah orang-orang yang punya hubungan sangat dekat atau kekeluargaan dengan orang lawan bicaranya dan penggunannya sebatas dalam forum bersifat non-formal. Bila dua ketetuan ini dilanggar, kata 'Daeng' jadi bermakna ejekan.

Masyarakat Bugis agak ketat memegang adat yang berlaku, utamanya dalam hal perlapisan sosial. Pelapisan sosial masyarakat yang tajam merupakan suatu ciri khas bagi masyarakat Bugis. Sejak masa pra Islam masyarakat Bugis mudah mengenal stratifikasi sosial. Di saat terbentuknya kerajaan dan pada saat yang sama tumbuh dan berkembang secara tajam stratifikasi sosial dalam masyarakat. Startifikasi sosial ini mengakibatkan munculnya jarak sosial antara golongan atas dengan golongan bawah.

Dalam suku Bugis jaman dulu dikenal 3 strata sosial atau kasta.
Kasta tertinggi adalah Ana’ Arung (bangsawan) yang punya beberapa sub kasta lagi.
Kasta berikutnya adalah To Maradeka atau orang merdeka (orang kebanyakan).
Kasta terendah adalah kasta Ata atau budak.
Hanya orang-orang yang berkasta Ana’ Arung dan To Maradeka yang berhak memberikan nama gelar pada keturunannya. Sementara kasta Ata tidak berhak untuk menggunakan nama gelar. Bagi bangsawan Bugis, gelarannya adalah “Andi“, sedangkan bagi To Maradeka bergelar Daeng.

Namun dalam perkembangannya, paggilan “Daeng” saat ini memiliki makna yang beragam. Bisa berarti kakak, bisa pula bermakna kelas sosial. Namun demikian penggunaannya harus berhati-hati. Apalagi saat ini, penggunaan kata Daeng untuk memanggil seseorang sering ditujukan untuk masyarakat dengan kelas sosial tertentu. Misalnya, daeng becak (penarik becak), daeng sopir pete-pete (sopir angkot), daeng kuli bangunan dan lain sebagainya.

Di Sulawesi Selatan, khususnya penghormatan kepada tokoh Bugis termasuk di dalamnya bangsawan biasanya dilakukan dengan menggunakan kata panggilan “Puang”, bukan “Daeng”.
(info dari www.rappang.com)

Wednesday, 28 March 2012

Demo Kenaikan BBM , Perlukah Kita Dukung?

BBM Naik Demonstrasi dimana-mana, apalagi daerahku Makassar macetnya minta ampun. Hampir semua jalan protokol dikuasai massa yang mayoritas Mahasiswa sebagai Agent of Change. Kalau berbicara demonstrasi nekat "anarkis" memang daerah ini sangat sering jadi trending tropic atau headline news media nasional.

Mengamati apa yang ada belakangan ini, sangat mirisnya bangsa ini didera oleh sekian banyak “ujian”. Kehidupan akan terus berlangsung tanpa memperhatikan “musim” yang harus dilalui. Salah satu tantangan besar adalah masyarakat yang harus menghadapi potensi kemerosotan ekonominya, terlebih untuk menghadapi beban kehidupan yang tak pasti.

Ketakpastian yang harus dihadapi adalah lonjakan harga BBM yang berefek pada seluruh harga kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari. Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan harga BBM tentu saja merupakan refleksi dari ketakmampuan bangsa ini menghadapi sekian permasalahan yang ada, dari sisi ini pemerintah belum mampu untuk melihat kebijakan yang sudah ada dengan lebih komprehensif, sehingga kebijakan-kebijakan di kemudian hari akan berbuah pada ketakteradilan.

Satu sisi Mahasiswa telah menunjukkan niat nya Pro Rakyat yang dengan tegas "Menolak Kenaikan BBM". Tetapi ketika melihat kejadian di Jl. Alauddin depan kampus UIN Alauddin Makassar, saya yang mantan aktivis berpikir keras ke arah mana cara demonstrasi sekarang ini. Tetapi sungguh tak adil jika kejadian kemarin kita langsung memvonis mahasiswa. Seingat saya warga sekitar jalan itu mayoritas mahasiswa UNM dan UIN yang nge kost/kontrak di seputaran jl. Mannuruki - dekat lokasi kejadian, kok bisa banyak warga yang berhadapan dengan mahasiswa dengan kedok tidak menyukai cara demonstrasi mahasiswa yang menutup jalan. Sekali lagi dalam susasana demo panas ditengah terik seringkali disusupi dengan provokasi, pura-pura berada dalam barisan demo tetapi niatnya merusak dan menjarah. Coba lihat kesaksian Tukang becak yang dibayar 50ribu untuk ikut demo Pro Kenaikan BBM {WEB REPUBLIKA}.

Saya apresiasi kepada kawan-kawan yang lagi berdemo di seluruh tanah air, perjuangan ini sangat diharapkan oleh semua elemen masyarakat kita, baik itu tukang becak, tukang sayur, petani maupun anggota polri dan TNI yang mereka dalam kontradiksinya harus membendung potensi huru-hara yang ada. Akan tetapi, kita juga perlu bijak menyikapi ini semua, jangan sampai ada korban yang tidak perlu.

Saya ingin kita semua sebagai bangsa yang sangat membanggakan, jangan sampai putus akal. Marilah kita saling menyokong dengan semangat gotong royong untuk lebih mengindahkan keberadaan bangsa ini kaya akan kreativitas dan kemandirian—kemandirian yang sejati—seperti yang diamanatkan oleh pejuang bangsa kita. Amanah yang kita emban sebagai penerus bangsa ini kan sudah barang pasti merupakan tanggungjawab dan kewajiban kita.

Tetapi sedikit mengalihkan pikiran kita ke bapak Presiden yang Terhormat, yang sedang asyik bercengkerama dengan Obama dan puluhan peserta KTT Nuklir di seoul sana, tidakkah ada kegelisahan dalam hatinya melihat bangsanya yang sudah mulai terbelah akibat isu yang mereka hembuskan sendiri {BBM Naik}. Kalau saya presiden tak mungkin saya meninggalkan riak-riak ini menuju luar negeri karena saya punya hati kalau yang berhadapan dengan panas, hujan peluru gas airmata itu adalah anak-anakku, seorang anak manusia calon penerus republik ini.

Satu kata semoga ada kebijakan positif oleh pemerintah kita tercinta, amin

Thursday, 11 August 2011

Taman Indonesia di Belgia Diresmikan, Pertama di Eropa

Malam ini, ada sebuah berita yang membahagiakan dari brussels. Lewat kontribusi berita bang Eddi Santosa di  detik.com beliau melaporkan peresmian Taman Indonesia di Eropa. Sebuah taman Indonesia seluas 5 hektar yang diberi nama The Kingdom of Ganesha ini adalah sebuah penghargaan dan kehormatan bagi bangsa Indonesia.

Peresmian oleh Menteri Pariwisata Jero Wacik


Taman ini berlokasi di Parc Paradisio, Brugelette, Belgia, telah dibuka dan diresmikan pada 20/5/2009 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik, didampingi Dubes RI Nadjib Riphat Kesoema, Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar dan Staf Ahli Khusus Menbudpar Harbunangin.

Dari pihak Belgia antara lain Menteri Ekonomi, Tenaga Kerja dan Warisan Budaya Wilayah Walonia, Jean Claude Marcourt dan CEO Parc Paradisio, Eric Domb.

Upacara pembukaan diwarnai upacara bernuansa Bali dengan penyucian Pura Agung Shanti Buwana, disaksikan sekitar 800 undangan yang memadati pelataran Taman Indonesia pertama di Eropa ini.

“Taman Indonesia di Belgia ini tidak hanya pintu dan jendela untuk mengenal Indonesia, tapi juga sebuah penghargaan dan kehormatan bagi bangsa Indonesia di Eropa,” Menbudpar Jero Wacik dalam sambutannya.

Secara terpisah Dubes Nadjib menambahkan bahwa taman yang digagas CEO Eric Domb ini tidak hanya mendekatkan masyarakat Eropa kepada Indonesia, tapi lebih dari itu adalah sebuah pengakuan bagi Indonesia.

"Bahwa sesungguhnya Indonesia memiliki keunikan yang amat menarik bagi dunia, yang layak untuk terus menjadi perhatian bangsa lain,” demikian Nadjib.

Miniatur Indonesia

Kompleks besar taman Indonesia seluas 5 hektar ini memang langka, unik sekaligus istimewa, tidak hanya bagi masyarakat Eropa tapi bagi warga Indonesia di Eropa. Di taman ini ada Puri Agung Shanti Buwana, sebesar ukuran sesungguhnya di Bali, berdiri di atas sawah bertingkat ala sawah di Ubud.

Selain itu juga dilengkapi dengan replika besar candi Prambanan yang menjulang tinggi, serta bongkahan batu besar berderet ala Gunung Kawi di balik tembok candi.

Di depan gerbang tampak Rumah Toraja, replika candi Borobudur dan di bagian belakang tampak rumah tradisional Nusa Tenggara Timur, berderet melingkari ujung taman. Ini masih diperindah dengan beragam patung, akar pohon tua, dan batang kayu pohon besar, yang telah menjadi fosil dari daerah Banten.

"Dijadwalkan pada akhir bulan ini gajah dari Sumatera akan tiba untuk memperkaya taman Indonesia ini," tutur Korfungsi Pensosbud PLE Priatna kepada detikcom.

Didatangkan dari Jawa Bali


Taman ini terwujud berkat kecintaan CEO Parc Paradisio, Eric Domb kepada Indonesia. Memperingati 60 tahun dibukanya hubungan diplomatik Indonesia-Belgia, kerjasama KBRI Brussel dan Eric Domb ini membuahkan hasil-hasil istimewa.

Kompleks taman dibangun keseluruhannya oleh para seniman yang didatangkan khusus dari Bali dan para pekerja dari Bali dan Jawa Tengah. Sebanyak 22 orang bekerja membangun taman sejak akhir 2006 dan selesai dalam dua tahun.

Priatna menjelaskan bahwa untuk menjaga keaslian dan aroma magis keindonesiaan, batu-batu untuk membangun pura besar dan seluruh lapisan jalan setapak berasal dari Indonesia. Totalnya ada sekitar 320 kontainer batu-batu candi diimpor dari lereng gunung Merapi Jawa Tengah.

"Betapa seriusnya Parc Paradisio memperkenalkan budaya Indonesia di pusat Eropa ini," ujar Priatna.

Parc Paradisio adalah sebuah taman konservasi flora dan fauna, yang dibangun sejak 2000 di tengah sisa bangunan chateau (kastil tua), dengan koleksi sekitar 1500 spesies tanaman dan 3500 spesies binatang.

"Taman ini tidak hanya menjadi pusat rekreasi yang menawarkan keakraban alam, manusia, dan kebudayaan, tetapi juga konservasi berkonsep moderen, yang mengibarkan promosi permanen bagi pariwisata, ekonomi dan investasi Indonesia di jantung Uni Eropa ini," demikian Priatna.

Sungguh kebahagiaan menjadi seorang Indonesian.
re-published from detik Travel.

About Me

I am 26 Years old, Born in one village in east of Region Bulukumba. Educational background Electrical Engineering at State Polytechnic of Ujung Pandang, & Continue to Bachelor Degree In UVRI Management, Economy Faculty. Now i am working at BUMN company (Tonasa Cement Plant)and Active in personal franchise business developer. So U can ask me and share in many things...telecomm,business,self improvement,religious, and Instrumentation Engineering.