• RSS
  • My Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
Showing posts with label AFF Cup 2010. Show all posts
Showing posts with label AFF Cup 2010. Show all posts

Friday, 7 January 2011

Nasionalisme Dan Sepakbola Indonesia


Apakah ada keterkaitan langsung antara nilai nasionalisme dan prestasi sepakbola sebuah bangsa?

Bagi pandangan universialis, nasionalisme adalah paham yang mulai digerogoti zaman. Pakar ilmu sosial politik Anthony Giddens pernah menyebutkan, begitu era Perang Dingin usai muncul era posmodern dengan persekutuan regional sebagai salah satu penanda yang paling signifikan.

Muncul lah Uni Eropa. Perbatasan (frontier) mulai terhapus dan melahirkan batasan (border). Secara fisik, garis perbatasan antarnegara sudah menghilang dan hanya ada batasan yang sulit dinilai secara kasat mata.

Di dunia sepakbola, Uni Eropa melahirkan sebuah kebijakan yang tak pernah terbayangkan generasi paman kita: Dekrit Bosman. Setelah 1995 sepakbola Eropa tergopoh-gopoh mengadopsi definisi baru tentang "pemain asing". Berdasarkan peraturan yang bermula karena sengketa antara seorang pemain Belgia dan klubnya itu, status pemain asing tidak lagi sekadar dinilai berdasarkan paspornya. Pemain dari negara anggota Uni Eropa bebas mencari nafkah di sesama negara anggota. Proteksi runtuh, pemain asing -- asal negara Uni Eropa maupun bukan -- pun membanjiri kompetisi Eropa.

Nasionalisme atau paham kebangsaan serupa barang semu. Tidak berbentuk dan hanya ada di dalam benak kepala orang banyak. Benedict Anderson mengatakan, bangsa-bangsa adalah komunitas yang dibentuk secara sosial dan diciptakan dalam persepsi mereka yang berada di dalamnya. Prinsip kebangsaan ini mendapat tempat lebih luas secara politis ketika orang membentuk negara.

Sepakbola turut memberikan ruang atas terjadinya persaingan antarbangsa atau antarnegara salah satunya melalui sistem kejuaraan yang dikenal sejak olahraga si kulit bulat ini mewabah secara global.

Dalam ruang yang paling kecil terjadi ketika Indonesia berpartisipasi di AFF Suzuki Cup 2010 lalu. Kebetulan atau tidak, Indonesia mengawali turnamen sekaligus mengakhirinya dengan menghadapi Malaysia. Hubungan Indonesia dan Malaysia tak ubahnya seperti dua negara tetangga lain di dunia. Saling cela, saling bersaing, saling cemburu, tetapi sebenarnya saling membutuhkan.

Malaysia dalam banyak hal sebenarnya mengagumi Indonesia. Dalam sebuah percakapan dengan seorang teman dari negara jiran itu di Kuala Lumpur dua pekan lalu, generasi muda Malaysia sebenarnya mengakui keunggulan berbagai produk budaya Indonesia. Sayangnya, Indonesia tidak memandang fenomena itu sebagai sebuah hegemoni melainkan menganggapnya sebagai produk yang eksklusif.

Tapi, di lapangan sepakbola Malaysia berhasil mengungguli Indonesia dalam dua pertemuan. Jika masyarakat Indonesia merayakan pencapaian timnas di AFF Suzuki Cup dengan gegap gempita, begitu pula dengan masyarakat Malaysia. Jika kepentingan politik Indonesia menempatkan sepakbola di pentas utama, begitu pula halnya dengan Malaysia. Sebabnya sepakbola dianggap berhasil menggelembungkan sikap nasionalisme sepanjang turnamen digelar.

Nasionalisme yang sudah ditinggalkan kalangan posmodernis tetap menjadi barang penting bagi negara dunia ketiga seperti Indonesia dan Malaysia. Jika menilik teori modernisasi Anthony Giddens, entah berada di tahap berapa Indonesia sekarang ini. Bukan negara primordial yang feodalis, tetapi tidak jua lepas landas. Kesadaran manusia, demikian Karl Marx suatu ketika, tergantung pada alat produksi yang dipakainya. Bagi Marx, kesadaran manusia sangat diperlukan demi sebuah kemajuan. Indonesia dan Malaysia, selama AFF Suzuki Cup, ternyata menuju "kemajuan" yang berbeda.

Di Malaysia dewasa ini, kebangsaan adalah isu penting. Dalam setahun terakhir Pemerintah rajin mempropagandakan kampanye "1Malaysia", yang bertujuan menyatukan berbagai rumpun budaya -- terutama tiga etnis besar: Melayu, Cina, dan India. Bahasa ibu masih akrab di telinga masyarakat sehari-hari karena tidak semua orang Malaysia bisa berbahasa Melayu dan tidak semua orang Malaysia lancar berbahasa Inggris.

Kaum oposisi beranggapan kampanye "1Malaysia" bertujuan melanggengkan status quo generasi rezim pemerintahan dan Anda tahu bahasa yang digunakan media Melayu untuk menyebut kata "oposisi"? "Pembangkang". Dalam bahasa Indonesia, dua kata tersebut memiliki konotasi yang berbeda. Pendeknya, bagi Malaysia persatuan adalah isu penting.

Jauh sebelum AFF Suzuki digelar, Pemerintah Malaysia menyertakan sepakbola dalam kurikulum pendidikan nasional. Sejumlah fasilitas akademis plus sepakbola didirikan di beberapa negara bagian -- terbaru di negara bagian Pahang. Sistem pembinaan pemain muda ini turut ditunjang kebijakan federasi sepakbola setempat (FAM) yang melarang partisipasi pemain asing dalam kompetisi nasional.

Saat turnamen digelar, euforia kebangsaan Malaysia mulai terpantik ketika sukses menumbangkan juara bertahan Vietnam 2-0 pada laga pertama semi-final di Kuala Lumpur. Ketika laga kedua digelar di Hanoi, Perdana Menteri Dato' Sri Mohammad Najib berupaya merangkul generasi muda Malaysia dengan mendatangi langsung arena nonton bareng di kawasan Bukit Bintang. Tanpa ragu PM Najib duduk bersila bersama ratusan penonton lainnya menonton layar lebar sampai pertandingan habis.

Ketika juara, wajar kiranya Pemerintah Malaysia merayakannya dengan meliburkan hari terakhir di tahun 2010 untuk berpesta menyambut gelar pertama mereka di turnamen antarnegara Asia Tenggara itu. Sepakbola dianggap sebagai kebanggaan bersama warga Malaysia. Semua etnis berbaur menjadi satu dalam merayakan keberhasilan tim Harimau Malaya. Malaysia berhak merayakan kemenangannya.

Indonesia menjalani turnamen dengan penuh warna, gagal meski difavoritkan merebut gelar. PSSI bahkan merayakan pencapaian timnas terlalu dini dengan memberikan bonus usai semi-final dan mengajak seisi anggota tim berkeliling luar lapangan sepakbola. PSSI memanfaatkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mendukung timnas dengan memaksa mereka mengantre tiket berjam-jam. Harga tiket jauh di atas biaya hidup sehari-hari di Jakarta, tapi peminat tetap membludak. Di negara kita, isu nasionalisme malah disetir ke arah kepentingan tertentu.

Kemajuan sepakbola Indonesia seperti terasa semu. Tingginya antusiasme publik tinggi masih dianggap sebagai bukti kebangkitan nasionalisme, padahal itu tak ubahnya wacana belaka. Seperti yang dikatakan seorang penonton ketika turnamen berlangsung, "Mau membela siapa lagi kalau bukan Indonesia, betapapun bobroknya sistem persepakbolaan negara ini."

Masalah mendukung timnas Indonesia itu adalah sebuah kewajaran. Kita tidak pernah bisa menilai kadar nasionalisme seseorang. Misalnya ketika wacana pemain keturunan dan naturalisasi didengungkan, tidak sedikit mencemooh karena menggunakan alasan rasio jumlah penduduk "pribumi" Indonesia dengan anggota skuad timnas. Ataupun ketika Boaz Solossa dicoret karena tak jua bergabung ke pemusatan latihan di Jakarta, orang ramai mempertanyakan nasionalismenya.

Ada yang merasa cukup nasionalis dengan hadir menonton di Senayan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Sesungguhnya tidak kurang nasionalis pula para pembersih sampah yang membersihkan kompleks olahraga Senayan setelah pertandingan digelar.

Wacana nasionalisme yang kerap digunakan cenderung kontraproduktif karena menciptakan sekat-sekat antara yang sama dan yang beda. Hal ini jauh dari cita-cita luhur membentuk masyarakat madani yang memiliki karakter inklusif. Dan sepakbola tidak akan mampu dijadikan takaran mutlak menilai nasionalisme, begitupun sebaliknya.

Duet penulis Simon Kuper dan Stefan Szymanski menyimpulkan, penyelenggaraan turnamen besar seperti Piala Dunia sejatinya tidak bisa diharapkan menghadirkan profit ataupun menciptakan kesadaran baru tentang nasionalisme negaa penyelenggara. Lihat bagaimana Afrika Selatan harus mengeluarkan biaya besar-besaran untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, padahal jumlah yang sama bisa dialokasikan untuk menyediakan fasilitas perumahan bagi kaum miskin. Namun, ada faktor yang juga dinilai penting, menyelenggarakan Piala Dunia bisa mendatangkan kebahagiaan.

Masyarakat Indonesia yang berduyun-duyun memadati Senayan di akhir tahun lalu tidak berupaya membuktikan nasionalisme mereka. Namun, mereka sejatinya mencari kebahagiaan di atas lapangan. Mereka bahkan bersedia membeli kebahagiaan itu meski harga tiket melambung memasuki babak-babak penentuan.

Penampilan para pemain timnas Indonesia yang gagah berani sepanjang AFF Suzuki Cup sebenarnya telah mampu membahagiakan masyarakat; tetapi jika dirasa ada sesuatu yang mengganjal kebahagiaan kita menikmati si kulit bulat, pasti ada yang salah dengan otoritas sepakbola negeri ini.

 sumber: www.goal.com

Thursday, 30 December 2010

Indonesia Kalah Terhormat


Tim Nasional Indonesia harus melupakan mimpi sebagai juara Piala AFF 2010. Meski berhasil menang 2-1 atas Malaysia pada laga leg kedua babak final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (29/12) malam, Pasukan Garuda gagal menjadi kampiun.
Indonesia gagal karena kalah agregat gol dari Malaysia setelah pada leg pertama di Kuala Lumpur, Minggu (26/12), kalah dengan skor 0-3. Agregat pun menjadi 2-4 untuk kemenangan Malaysia yang kemudian keluar sebagai juara.


Namun demikian, perjuangan timnas tetap layak dipuji. Firman Utina dkk tetap pantas disebut sebagai juara tanpa mahkota. Setidaknya Indonesia dua kali mampu mengalahkan Malaysia di Piala AFF 2010 ini. Kekalahan 0-3 di Malaysia pun banyak kalangan menilai karena adanya gangguan dari luar lapangan. Suporter Malaysia menyerang pemain Indonesia dengan laser.
Selain itu, Indonesia hanya menelan sekali kekalahan serta enam kemenangan di turnamen antarnegara Asia Tenggara ini. Bandingkan dengan Malaysia yang menelan dua kekalahan, dua seri, dan hanya tiga kali menang.

Karena itulah, suporter Indonesia tetap memberikan dukungan besar kepada timnas. Bahkan terbilang luar biasa. Mereka terus dieulu-elukan usai pertandingan tadi malam. Tak terlihat kekecewaan berarti meski gagal menjadi juara sesungguhnya.
Saat meninggalkan GBK usai pertandingan, Firman dkk masih disambut dengan histeris bak barisan pahlawan. Para suporter berdiri di depan bus yang akan mengangkut pemain seolah tak rela ditinggalkan oleh para pahlawan tersebut.

Suporter memangil satu persatu nama pemain sambil menyanyikan lagu Garuda di Dadaku. Beberapa pemain terlihat sangat terharu melihat atraksi suporter tersebut, mata mereka berkaca-kaca bahkan Muhammad Ridwan terlihat menitikan air mata menyaksikan kesetiaan suporter tersebut.

Kegalan Keempat

Bagi Indonesia, ini merupakan kegagalan keempat kali menjadi juara setelah tampil di final. Sebelumnya Indonesia juga gagal di tahun 2000, 2002, dan 2004 saat turnamen ini masih bernama Piala Tiger. Indonesia pun menjadi spesialis runner up.

Sementara Harimau Malaya mencetak sejarah dengan keluar sebagai juara AFF untuk kali pertama. Sebelumnya Malaysia sempat tampil di final tahun 1996 namun kalah dari Singapura.
Meskipun gagal, Pelatih Indonesia Alfred Riedl mengaku tetap bangga dengan kerja keras pasukannya selama pagelaran AFF.

"Selamat kepada Malaysia tapi saya sebenarnya punya tim yang lebih baik, kami hanya tidak beruntung di pertandingan ini. 45 menit pertama adalah permainan terbaik kami selama AFF Cup di babak kedua kami kembali menunjukkan karakter mampu bangkit setelah tertinggal," kata Riedl saat konferensi pers usai pertandingan.
"Terima kasih kepada semua pemain timnas yang telah menunjukkan komitmen dan tetap disiplin,saya juga berterima kasih kepada semua masyarakat yang selalu memberikan dukungan, kami sempat membayarnya dengan pertandingan yang bagus di beberapa pertandingan," tambah  Riedl. 

Pelatih asal Austria ini juga tak lupa meminta maaf karena gagal memberikan gelar juara AFF. Riedl mengaku tetap bertanggung jawab atas semuanya dan tidak menyalahkan pemainnya meski Firman melakukan kesalahan fatal dengan gagal mengeksekusi penalti.
    "Kita tidak usah berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan andai saja Firman bisa cetak gol. Setelah ini saya akan melakukan evaluasi dan mungkin akan mempertahankan beberapa skuad yang ada," kata Riedl yang menyerahkan nasibnya kepada PSSI.
    Meski gagal mempersembahkan gelar, PSSI tetap akan mempertahankan Riedl karena dianggap sukses memberikan warna baru terhadap timnas Indonesia.
    "Saya hanyalah seorang karyawan andai saja bos saya mau mempertahankan saya siap tapi jika mau dipecat silakan. Kontrak saya masih tersisa 16 bulan kita tidak tahu apa yang akan terjadi," kata Riedl.

    Dalam jumpa pers tersebut, Bambang Pamungkas dan Firman juga turut hadir. Striker senior Merah Putih ini tetap memuji perjuangan rekannya. "Kawan-kawan bermain sangat luar biasa tapi itulah sepakbola. Kami memang tidak juara tapi kami tidak kalah. Kita cuma kurang beruntung, termasuk saat penalti Firman yang gagal," kata Bambang, yang tak menjawab terkait rencana pensiunnya.

    Sementara Firman mengemukakan alasan kegagalannya mencetak penalti yang menjadi titik tolak kegagalan Indonesia.
    "Saya gagal mencetak penalti bukan karena tekanan tapi lebih karena kegagalan, saya sempat memberikan kesempatan kepada Gonzales untuk mengeksekusi tapi dia tidak mau. Saya yang mendapat tugas dari pelatih untuk mengeksekusi, kalau bukan saya terus tidak ada pemain lain yang mau lalu siapa lagi," kata Firman.

    Secara keseluruhan timnas Indonesia patut bangga dengan perjuangan selama 90 menit. Namun ketatnya pertahanan Malaysia membuat barisan depan Indonesia kesulitan untuk menjaringkan gol. Berkali-kali peluang Indonesia di babak pertama selalu gagal termasuk penalti Firman pada menit ke-17.

    Malaysia yang terus diserang dari menit awal ternyata mampu memanfaatkan peluang dengan mencetak gol pada babak kedua. Mohammad Safee mencetak gol lewat serangan balik pada menit ke-53.

    Setelah tertinggal 1-0, Pasukan Garuda tak menyerah. Perjuangan keras terus dilakukan, alhasil gol yang ditunggu akhirnya tiba juga pada menit ke-71 lewat kaki Muhammad Nasuha yang melakukan penetrasi dari sisi kanan sambil melepaskan tendangan keras menembus gawang kiper Malaysia.

    Pada menit ke 83 Indonesia kembali mencetak gol setelah pemain belakang Malaysia melakukan gol bunuh diri setelah gagal mengantisipasi bola tendangan Ridwan dari sisi kanan. Namun sayang kemenangan 2-1 tak mampu menolong Indonesia meraih juara.

Nurdin Halid

Desakan mundur kepada ketua umum PSSI Nurdin Halid terus mengemuka di Piala AFF 2010. Nurdin menegaskan dirinya tak akan mundur karena menghargai demokrasi dan tatanan PSSI.
Teriakan "Nurdin Turun" ,  terus bergema di stadion. Suporter meminta Nurdin meletakkan jabatan hampir selalu terlihat dan terdengar selama Indonesia berlaga di Piala AFF tahun ini.
Kini PSSI di bawah kepengurusan Nurdin Halid kembali gagal mempersembahkan gelar juara kepada tim Merah Putih, usai Firman Utina dkk. takluk dari Malaysia dengan agregat 2-4.

 Nurdin sendiri mengatakan dirinya tidak akan menuruti desakan mundur tersebut. "Di dunia ini, mana ada ketua umum disuruh mundur ketika timnya menang?" tegas Nurdin kepada wartawan.
Nurdin itu merujuk pada kemenangan 2-1 yang diraih Indonesia atas Malaysia dalam laga malam ini di SUGBK. 

Dari pantauan detiksport, Nurdin sempat diteriaki suporter saat berada di mixed zone. Keadaan menjadi kondusif setelah aparat keamanan turun tangan.
"Saya tidak akan mundur karena tekanan. Saya tidak akan mundur karena menghargai demokrasi dan tatanan PSSI. Jika kita gagal juara, itu very very unlucky," tuntasnya. (Tribunnews/cen)   

Amanda Gonzales Sedih, Irfan Dikunjungi Ayah

Amanda Gonzales, putri penyerang tim kesebelasan Indonesia, Cristian Gonzales mengaku sedih atas kegagalan Timnas PSSI merebut Piala AFF 2010. Namun dia tetap senang karena tim ayahnya sudah berjuang sekuat tenaga, dan menang pada laga terakhir 2-1 walau agregat kalah 4-2.
"Aku sedih, but its ok. I'm very proud with them," ungkap Amanda saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (29/12) malam.

Perasaan lapang dada juga diungkapkan Amanda saat disinggung mengenai performa ayahnya, walau tidak berhasil mencetak gol di laga leg kedua Final Piala AFF 2010. Pada laga sebelumnya di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, Firman Utina dan kawan-kawan bertekuk lutut tiga gol tanpa balas.

"Karena papa dijaga sangat ketat. Jadi wajar kalau yang lain bisa mencetak gol," ujar putri pertama Gonzales, pemain asal Uruguay yang telah menjadi Warga Negara Indonesia.
Amanda menyangkal jika Eva Nurida Siregar, ibunya, tidak menyaksikan pertandingan leg kedua Final Piala AFF 2010. Menurutnya, Eva memang jarang menonton secara langsung di stadion. "Mama sukanya berdoa. Jadi dia nonton di televisi sambil berdoa. Apakah itu di rumah atau di hotel," tegas Amanda. "Setelah ini paling kita kumpul-kumpul keluarga dan ngobrol-ngobrol," imbuhnya. 

Irfan Bachdim

Seorang lainnya, pemain lama tinggal di Belanda dan lulusan sekolah sepakbola Ajax, Irfan Bachdim tidak mencetak gol empat laga terakhir, saat melawan Filipina dan Malaysia.  Kegagalan dalam final Piala AFF 2010 mungkin menimbulkan luka bagi Irfan di penghujung tahun 2010. Namun Irfan sepertinya memiliki dua obat untuk luka tersebut.

Pertama, Irfan disambangi pacarnya, Jenifer Kurniawan yang menonton langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Rabu  (29/12) malam. Selain itu, Irfan bakal dikunjungi kedua orang tua dan dua adiknya yang sengaja terbang dari Belanda ke Jakarta.

"Rencananya sekitar tanggal 1 (Januari) nanti, orang tua Irfan dan dua adiknya bakal ke Indonesia. Mereka akan langsung ke Malang untuk ikut menyaksikan Irfan bertanding dengan Persema," ungkap Ferry Bachdim, paman Irfan, saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (29/12).

Ferry mengatakan usai Piala AFF 2010, Irfan kemungkinan langsung pulang ke Malang. Pasalnya, Irfan memiliki laga bersama timnya, Persema Malang pada 4 Januari mendatang.
Disinggung mengenai karier Irfan di Indonesia, Ferry mengatakan Irfan sudah menyatakan bakal tetap merumput di tanah air. Apalagi dia adalah WNI asli, bukan pemain naturalisasi, karena ayahnya orang Indonesia. "Jadi ayah dan ibu Irfan itu punya empat anak. Empat-empatnya milih untuk jadi WNI," tegasnya.

Kok bisa? Ferry menjelaskan Irfan dan kakak serta adiknya memilih jadi WNI sesuai dengan tanah kelahiran sang ayah. Di Belanda, ketika seorang anak masih di bawah umur, maka status kewarganegaraannya bakal mengikuti sang bapak. Namun setelah dewasa, mereka bisa memilih. "Jadi Irfan itu bukan pemain naturalisasi. Dia adalah asli orang Indonesia," imbuh Ferry


Sumber: www.tribun-timur.com

Friday, 24 December 2010

Banyolan Ala Timnas

Alfred Riedl
Tim nasional Indonesia tidak hanya jago menggocek bola di lapangan selama turnamen Piala AFF 2010. Firman Utina dan kawan-kawan ternyata juga piawai membuat banyolan yang mengundang tawa, terutama di depan para wartawan.

Banyolan-banyolan para pemain itu hanya bisa ditemui di luar pertandingan. Dan, wartawan peliput sering terhibur oleh banyolan mereka. Tindak-tanduk maupun pernyataan pemain, asisten pelatih, maupun pelatih, sering dikemas dalam nada humor yang segar.

Berikut momen-momen lucu seputar timnas Indonesia:

1. Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan pertemuan singkat dengan timnas Indonesia di Lapangan ABC, Senayan, Senin (13/12/2010), ada dialog lucu. Dalam pertemuan tersebut, SBY berusaha mengenal lebih dekat lagi skuad "Merah Putih". Presiden meminta tim untuk memperkenalkan dirinya masing-masing.

"Saya sebenarnya sudah kenal para pemain. Namun, diperkanalkan lagi satu per satu, nama klub, dan asal daerah," pinta SBY.

Satu per satu pemain kemudian memperkanalkan diri. Tibalah giliran Gonzales. "Aku Cristian Gonzales dari Persib Bandung," Gonzales.

SBY kemudian menanyakan asal Gonzales. Dengan cepat, ia menjawab, "Asalku dari Indonesia, Pak".

Mendengar jawaban tersebut, sontak gelak tawa pun meledak.

2. Pelatih Alfred Riedl memang terkesan serius. Namun, ini bukan berarti tidak bersahabat. Ia memiliki rasa humor juga dan pernah melontarkan pernyataan-pernyataan nyeleneh. Pelatih asal Austia itu memberikan jawaban yang mengundang tawa ketika menjawab pertanyaan salah seorang wartawan surat kabar harian olahraga.

Wartawan tersebut bertanya kepada Riedl apakah telah menyiapkan strategi lain seandainya Firman Utina dan Oktovianus Maniani yang tengah mengalami cedera harus absen melawan Malaysia pada final pertama, Minggu (26/12/2010).

"Apakah Anda memiliki strategi lain apabila Firman Utina dan Oktovianus Maniani harus absen pada pertandingan nanti? Soalnya, saya lihat mereka masih cedera," tanya wartawan tersebut.

Riedl menjawab pertanyaan itu dengan setengah bercanda, "Anda benar melihatnya? Apakah Anda dokter?"

Jawaban tersebut membuat para wartawan tertawa. "No..no (strategi khusus-red). Kami punya 22 pemain inti yang semuanya memiliki kualitas yang sama bagusnya," kata Riedl dengan mimik yang lebih serius.

3. Kelucuan kali ini terjadi setelah asisten pelatih Wolfgang Pikal terkesan salah menerjemahkan pernyataan Riedl di dalam jumpa pers. Saat itu, Riedl mensyukuri kemenangan timnas dengan mengatakan, "Thanks God!".

Pikal menerjemahkanya dengan ucapan "Alhamdullilah". Meskipun tidak berbeda makna, wartawan tertawa begitu mendengar ucapan Pikal itu. Pikal juga kerap mengundang tawa ketika dia lupa tentang apa yang harus diterjemahkan dari pernyataan Riedl.

4. Lagi-lagi Cristian Gonzales mampu "menghibur" wartawan dengan pernyataannya yang nyeleneh. Saat acara ramah-tamah dengan keluarga Aburizal Bakrie, Senin (20/12/2010), wartawan berusaha mengorek informasi siapa yang akan menjadi tandem "El Loco" saat melawan Malaysia pada final pertama akhir pekan ini. Gonzales menjawab, "Lebih enak sama Messi dan Ronaldo." Para wartawan langsung tertawa begitu mendengar pernyataan pemain kelahiran Uruguay tersebut.

 sumber berita : disini

Wednesday, 22 December 2010

Indonesia Kandidat Terkuat Juara AFF Cup 2010

El Loco Gonzales

Timnas Indonesia akhirnya dipastikan lolos ke babak Final Piala AFF 2010, Garuda sudah ditunggu oleh Malaysia saat leg pertama dimainkan pada tanggal 26 Desember nanti.

Indonesia kembali berhasil menaklukan Filipina dengan skor agregat 2-0 yang keduanya dicetak melalui gol indah sisa postingan sampai selesai Cristian "El Loco" Gonzales.

AFF yang sudah di gelar sejak tahun 1996 telah melahirkan tiga negara peraih gelar, Thailand dan Singapura sama-sama meraih tiga kali dan Vietnam satu kali. Tahun ini Final akan menemukan juara baru, karena sudah dipastikan pemenangnya antara Indonesia dan Malaysia.

Bila kita melihat pertandingan terakhir melawan Malaysia pada fase grup Indonesia berhasil menang dengan skor telak 5-1. Akan tetapi bila kita melihat dua pertandingan terakhir Malaysia pada laga semi-final kontra Vietnam maka pasukan Garuda perlu berhati-hati.

Pasalnya terlihat sebuah perubahan permainan yang drastis ketika mereka berhasil menaklukan juara bertahan dengan skor 2-0 pada leg pertama, meski pada leg kedua mereka tampil ultra defensif untuk memastikan peluang lolos.

Ekspetasi para pecinta sepakbola sangat tinggi atas peluang meraih Trofi Piala AFF 2010, terbukti dari banyaknya status di jejaring sosial Facebook dan Twitter yang optimis Indonesia kembali menaklukan Malaysia. "Ayo Indonesia, kali ini bantai Malaysia lebih dari 5 gol!!" tulis Eko Prasetyo yang membalas tweet info dari Twitter @bolalob.

Indonesia juga mendapatkan dukungan dari pemain Liverpool yang yang pernah satu sekolah sepakbola bersama Irfan Bachdim, Ryan Babel. Melalui akun Twitternya Babel mengucapkan selamat pada pasukan Garuda dan juga Irfan Bachdim

"Selamat untuk Indonesia yang meraih partai final," tulis Babel dalam akun Twitternya, @RyanBabel.

Hal lain yang patut disorot adalah pertandingan Final leg II yang akan dilangsungkan di Gelora Bung Karno pada tanggal 29 Desember, kali ini dipastikan jumlah permintaan untuk tiket menonton langsung di stadion akan semakin tinggi. Kesiapan panita penyelenggara pun dituntut harus semakin matang untuk memastikan tidak ada kekisruhan masalah tiket yang kembali terulang.

Mari kita dukung Timnas Indonesia untuk mengharumkan Garuda dikancah Asia Tenggara dan terus berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia di Dunia.

sumber asli : disini 

English version : Please Click Here

Kebanggaan Yongki Memakai Merah Putih

Yongki Aribowo
Seperti kebanyakan orang, Yongki Aribowo bermimpi bisa tampil membela timnas Indonesia. Tapi kini pria asal Tulunggagung itu telah berhasil dan bangga bisa membela 'Merah Putih' di Piala AFF kali ini.

Piala AFF 2010 adalah turnamen internasional pertama pesepakbola yang menimba ilmu di SSB Sinar Jaya Tulungagung bersama timnas senior. Sebelumnya ia juga sempat bermain di level SEA Games, namun hanya bersama timnas U-23.

Nama Yongki naik daun saat ditarik ke tim junior Persik Kediri pada 2008-2009, saat masih berumur 18 tahun. Penampilan apiknya di tim junior membawa pesepakbola bertinggi badan 175 cm itu masuk ke tim senior dan lantas menjadi idola baru Persik Mania. Duetnya bersama Saktiawan Sinaga menjadi momok bagi pertahanan lawan.

Sayang terdegradasinya Persik musim lalu membuatnya harus pindah sampai akhirnya juara bertahan ISL Arema FC pun meminang pengoleksi 19 caps dan tujuh gol bersama 'Macan Putih' itu. Sejauh musim 2010/2011 berjalan, Yongki sudah tampil tujuh kali dan menyumbang satu gol.

Kemudian nama Yongki masuk dalam 23 pemain yang dibawa Alfred Riedl ke Piala AFF. Meski di tiga pertandingan penyisihan grup dan leg I semifinal Yongki harus mengakrabi dirinya dengan bangku cadangan. namun kesempatan berharga itu datang di leg II kontra Filipina di mana ia dipercaya menggantikan Irfan Bachdim mendampingi Cristian Gonzales di lini depan.

Ini adalah pertama kalinya Yongki jadi menjalani debutnya di level internasional dan langsung jadi starter. Meski tak mencetak gol namun penampilannya sepanjang 90 menit benar-benar merepotkan pertahanan Filipina.

Atas hal itu Yongki mengaku sangat senang karena ia awalnya terkejut dipilih sebagai pemain utama. Padahal masih ada nama Bambang Pamungkas yang lebih senior dan tentunya berpengalaman.

"Bangga banget mas jadi starter, padahal ada Bambang Pamungkas kan di sana. Saya agak kaget juga pas siangnya sebelum main dikasih tahu kalau saya jadi starter," tutur Yongki dalam perbincangan dengan detiksport, Selasa (21/12/2010) sore WIB.

Yongki pun jadi punya kesempatan untuk mencicipi partai final internasional pertamanya bersama Indonesia. Atas keberhasilan itu Yongki dkk diganjar bonus Rp 2,5 M oleh Ketua Umum PSSI Nurdin Halid. Lalu kau gunakan untuk apa uang itu, Yongki?

"Bonusnya untuk meneruskan usaha bersama bapak dan abang saya. Saya belikan sapi potong karena kami sapi kami di rumah masih kurang dari 10," ucap Yongki merendah.

Well, lanjutkan terus aksimu, Yongki!



Original Source: disini

English Version: Please Click Here



Monday, 20 December 2010

El Loco Untuk bangsa Indonesia

Cristian Gonzales kembali mencetak gol untuk timnas Indonesia di ajang AFF Suzuki Cup 2010. Golnya ke gawang Filipina di leg pertama semifinal ia persembahkan untuk suporter ‘Merah Putih’.
Gonzales menyumbang satu gol saat Indonesia membantai Malaysia 5-1 di laga perdana Piala AFF minggu lalu. Namun di dua laga berikutnya kontra Laos dan Thailand, nama pria berdarah Uruguay itu tak ada di papan skor.

Meski begitu, kepercayaan pelatih Alfred Riedl pada striker 34 tahun itu tak pernah surut. Ia selalu dipasang sebagai starter, termasuk saat menghadapi Filipina di Stadion Gelora Bung Karno, Kamis (16/12/2010) malam WIB.

Kepercayaan itu tidak disia-siakan Gonzales karena ia tampil sebagai pahlawan lewat gol tunggalnya di menit ke-32. Skor 1-0 pun jadi modal yang cukup bagi Indonesia melakoni laga kedua hari Minggu nanti.

Itu adalah gol kedua Gonzales di turnamen ini sekaligus yang keenam sejak berbaju timnas awal November lalu. Tak ada rasa senang berlebihan dari striker 34 tahun itu karena kemenangan tim di atas segalanya.

“Yang penting tim menang dan main bagus. Saya harap kami bisa berkonsentrasi untuk laga kedua nanti. Peluang kami kini ke final lebih besar. Kalau kemarin ‘kan masih 25 persen,” tutur Gonzales saat ditemui wartawan seusai pertandingan.

“Saya persembahkan gol ini untuk seluruh masyarakat Indonesia yang selalu mendukung kami,” sambung pemain berjulukan El Loco itu.

sumber: detiksport

About Me

I am 26 Years old, Born in one village in east of Region Bulukumba. Educational background Electrical Engineering at State Polytechnic of Ujung Pandang, & Continue to Bachelor Degree In UVRI Management, Economy Faculty. Now i am working at BUMN company (Tonasa Cement Plant)and Active in personal franchise business developer. So U can ask me and share in many things...telecomm,business,self improvement,religious, and Instrumentation Engineering.